Senin, 24 Oktober 2016

[SELF-OBSERVING]



Okt 24, 2016
        Malam ini, aku memikirkan tentang banyak hal. Berbagai pemikiran ini muncul ketika ada sebuah kata yang terdengar tepat di indera pendengaranku.. sebuah kalimat yang mempertanyakan bahwa, apakah aku kalah?
        Ya.
Aku baru saja mengalami sebuah kekalahan.
        Sesuatu yang berkali-kali aku rasakan semasa hidupku, khususnya ketika aku beranjak  remaja. Aku merasa bodoh, aku merasa aku adalah orang nomor dua dalam kompetisi ini, aku merasa terdapat entitas-entitas yang mengalami kemunduran dalam diriku, aku merasa diriku adalah orang yang kurang apabila ditinjau dari segala aspek. Mungkin itu yang membuatku kalah berkali-kali.
        Dulu, aku sering merasakan kemenangan. Namun kemenangan yang aku rasakan, tidak dapat aku iyakan sepenuh hati dalam diriku. Karena apa? Karena kemenangan yang aku dapatkan, bukanlah berasal dari kerja kerasku 100%. Bahkan aku menganggap bahwa aku kalah dalam sebuah kemenangan.
        Namun apa yang baru saja aku rasakan dalam kekalahan ini? aku merasakan sebuah kemenangan, kawan. Aku merasa, aku telah memperjuangkan yang sebaik-baiknya, dalam pengorbanan yang ikhlas, hati yang jernih, dan doa yang senantiasa mengirinmgiku. Bahkan disaat inilah, aku merasakan kemenangan dalam sebuah kekalahan.
        Sungguh aneh.
        Terlintas dalam benakku saat ini.. bahwa kemenangan bukanlah segala-galanya. Untuk saat ini, hal tersebut masih berupa hipotesis.
Aku harus menemukan, dan
Aku harus membuktikan,
Apa arti sebuah kekalahan dan kemenangan..

Berlian S.F.

Senin, 25 Juli 2016

Berinvestasi Masa Depan bersama Zenius

---warning : this is gonna be a very long post---



               Halo sobat Zen! perkenalkan nama saya Berlian, saya dari SMA Negeri 3 Semarang angkatan 2016. Di blog ini saya akan berbagi tentang pengalaman saya dalam menghadapi SBMPTN dan UM-UM (Ujian Mandiri) yang pernah saya ikuti. Saya harap tulisan ini dapat dijadikan semangat sekaligus bermanfaat untuk kalian semua ^^
               Sebelum menerjang ke cerita heroik menembus SBMPTN, saya akan menggabarkan terlebih dahulu siswa seperti apa diri saya ini selama SMA, hehehe. Jadi Berlian SMA adalah siswa yang bukan termasuk papan atas dalam segi akademik, tapi jujur waktu itu saya sangat menikmati bergabung dalam berbagai organisasi, kepanitiaan, kegiatan, dan mengikuti kompetisi. Mungkin itu sebabnya prestasi saya dalam akademik jadi kurang maksimal, namun usaha ekstra juga saya lakukan demi mengejar ketertinggalan jika ada kelas yang tidak saya ikuti. 
               Hal itu berlangsung selama 4 semester, saya sangat terlena dengan masa-masa itu hingga menjelang kelas 12 saya baru menyadari betapa dahsyatnya medan yang akan saya hadapi kemudian. Sebenarnya hampir seluruh guru telah mengingatkan kami semua sejak masuk menjadi siswa SMA 3 Semarang, untuk menjaga nama baik khususnya dalam hal pelajaran. Jadi wejangan-wejangan, tugas-tugas, dan persaingan kelas yang ketat adalah santapan setiap hari. Saat itu saya berfikir, ikuti aja semua pelajaran, kerjakan aja semua tugas, belajar aja setiap malam, maka saya yakin saya pasti bisa mengerjakan semua ulangan-ulangan yang ada, begitu pikir saya.
Semester 2 dan 3  adalah puncak-puncaknya saya menyibukkan diri dalam hal non-akademik. Hingga chairmate-saya memberikan saya  tamparan yang luar biasa saat kita mendapati nilai ulangan fisika. Nilai saya sangat jelek waktu itu, padahal malam sebelumnya saya sudah belajar. Ya, saya membuktikan betapa dasyatnya belajar SKS (Sistem Kebut Semalam)+ menghafal telah berhasil meluluhlantakan nilai saya. Saat itu saya mengeluh padanya, dan apa responnya? “Berli, jangan terlalu banyak ikut kegiatan dong, coba pikirin nilai-nilaimu. Sebentar lagi kan kita uda kelas 12, kamu bisa kok. Cuman ya,kegiatanmu tadi ” itu responnya. Perasaan saya ketika itu adalah terkejut, bahkan sahabat saya saja peduli dengan nilai-nilai saya, masa saya sendiri cuek. Dan 4 semester berlalu, apa yang saya dapat? Nilai-nilai hampir selalu mepet kkm, ipk rapot tidak terlalu tinggi, dan impian mendapat 10 besar rangking kelas pupus. Sedih, iya sedih. Tapi saya baru benar-benar sedih dan menyadari ketika tamat menyelesaikan semester 4. Itu artinya saya akan menjadi salah satu ujung tombak penentu nasib diri saya, orangtua, sekolah, dan adik-adik kelas. Semua akan menjadi pertaruhan, kawan!!
]
Liburan menuju kelas 12 akhirnya tiba. Saya memilih untuk lebih sering berada di rumah, saat itu adalah bulan suci Ramadan. Saya banyak menghabiskan waktu untuk beribadah, mengaji, merenung dan memikirkan hal-hal yang akan saya lakukan ke depannya. Perasaan saya sangat kacau saat itu, entah saya bisa memperbaiki semuanya atau tidak, tapi yang jelas saya sudah membangun tekad saya untuk tidak main-main di kelas 12. Ketika saya kumpul keluarga dalam rangka Idul Fitri, saya mengumpulkan uang hasil nge-job (re: mengisi acara), dan dengan yakin saya akan menggunakan uang itu untuk berinvestasi dalam menunjang tekad saya. Saya membeli voucher elektrik 12 bulan Zenius.net seharga Rp.440000 di Indomaret terdekat. Tadinya saya ingin sekali membeli X-Pedia, tapi mengingat kantong terbatas. Dengan dibarengi tekad, menurutsaya sudah cukup!
Genderang perang pun mulai ditabuh, kelas 12 akan segera dimulai. Rasa percaya diri saya sebenarnya belum begitu kuat ketika melihat performa teman-teman -yang selama ini giat belajar- begitu mendapat soal mereka sudah dengan mulus mengerjakan. Sedangkan saya? Masih celingak-celinguk memikirkan harus mengerjakan dari sebelah mana (khususnya fisika). Akhirnya saya mencoba membujuk mami untuk mengijinkan saya les di bimbel belakang sekolah dengan harga yang sedikit lebih terjangkau. Jadi di awal semester 5, hari-hair saya saya jalani dengan belajar seharian. Zenius dari jam 3 pagi hingga subuh, pagi hingga sore sekolah fullday, sore les bimbel, dan malamnya mengerjakan tugas dan Zenius, selalu seperti itu. Tadinya saya pikir saya akan kelelahan sesudah seharian belajar, tapi mendengar suara tentor-tentor Zenius yang gokil, jadi semangat lagi! Alhamdulillah, nilai semester 5 yang saya dapatkan meroket jauh. Di akhir semester 5, saya mendaftar Ujian Mandiri UGM International Undergraduate Program (IUP) of Law (first intake) ,pendaftarannya memang sangat awal yang bisa diindakasikan bahwa besar peluang untuk bisa lolos, meskipun begitu persiapannya banyak sekali, belum lagi pendaftar-pendaftar  yang sudah pernah mencoba sebelumnya membuat Ujian Mandiri ini sangat menantang. Tapi sayangnya, saya belum beruntung. Setidaknya saya sudah banyak mencicil materi bahasa Inggris dan menjadikan ini sebagai reminder!
Kegagalan itu saya jadikan motivasi dalam memulai semester 6, intensitas dan frekuensi belajar saya semakin saya tingkatkan. JANGAN LENGAH, kata itu diucapkan mami saya dan  selalu memacu saya tidak hanya untuk belajar namun juga beribadah dan menjaga kesehatan. Oiya, sedikit intermezzo. Berakhirnya semester 5 berarti dimulainya persiapan berbagai berkas untuk SNMPTN. Berbagai kebijakan baru yang diadakan kemendikbud salah satunya yaitu penetapan kuota 75% (sekolah berakreditasi A) dari skala sekolah untuk selanjutnya dibawa ke skala nasional. Jujur, banyak dari kami yang kecewa dengan kebijakan baru tersebut. Saya pun berpikir demikian (walaupun sebenarnya saya tahu diri untuk tidak terlalu berharap pada SNMPTN karena track record saya selama ini) ,tapi menurut saya kesempatan bersaing dalam kancah nasional lewat nilai-nilai rapot (SNMPTN) berkat  jerih payah selama 5 semester adalah hak untuk setiap siswa kelas 12 terlebih lagi hasilnya pun akan diumumkan di awal semester 6, maka bukan tidak mungkin akan berimbas pada segi mental siswa yang nantinya akan menghadapi Ujian Sekolah (US) dan Ujian Nasional (UN) setelahnya.
Akhirnya pengumuman 75% sudah ter-publish, alhamdulillah saya termasuk dalam jajaran di dalamnya. Tapi itupun rasanya kurang menyenangkan. Terlebih ketika melihat teman-teman seperjuangan yang tidak tergabung di dalamnya, dilihat dari raut muka mereka dan postingan sosial media untuk meluapkan kekecewaan mereka. Jadi menurut saya kebijakan itu baik dari segi persiapan SBMPTN yang berarti dapat dilakukan jauh-jauh hari, namun dalam prakteknya hal itu dirasa kurang adil dan berdampak dari segi mental siswa. Namun apa boleh buat, akhirnya kami saling menyemangati satu sama lain. Di semester 6 kami disibukkan dalam segala macam persiapan UN dan Try Out. Tapi kalau saya sih memang lebih memilih sarannya Bang Sabda, memperjuangkan SBMPTN!!
Hal yang lebih memilukan pun akhirnya terjadi, saat sesudah UN dan pengumuman SNMPTN akhirnya keluar. Sekolah saya SMA N 3 Semarang, berhasil menggemparkan dunia pendidikan Indonesia. Permasalahannya adalah 100% siswa IPA reguler jalur SNMPTN tidak ada yang diterima satu pun. Bukannya sombong, namun sekolah itu memang salah satu sekolah favorit dan otomatis jalur undangan adalah idaman setiap insan siswa+orang tua+pihak sekolah+pemerintah. (  kecuali saya :”)  ) Kejadian ini pun menjadi tragedi yang membuat kami semua pihak berfikir bahwa sepertinya ada kejanggalan dalam sistem input data. Hingga saat ini pun kasus ini masih diselidiki oleh para orang tua siswa, sekolah dan pemerintah. Namun hal yang ingin saya sampaikan adalah banyak dari teman-teman saya yang beberapa saat terlarut dalam menanggapi hal ini, disatu sisi hal itu wajar, namun disisi lain kita semua harus saling mengingatkan dalam persiapan SBMPTN. Dengan berbagai pemberitaan di media yang simpang siur, keadaannya pun kadang tidak terlalu kondusif. Terkadang di sela-sela belajar, kami jadi keasyikan mendiskusikan hal ini –yang notabenenya kami ada sangkut paut di dalam permasalahan itu secara langsung-. Belum lagi ketika orang-orang lain yang kepo ikutan bertanya dan meminta penjelasan dari kami. Kadang saya menjadi sedikir khawatir akan pecah konsentrasi. Namun saya selalu ingat untuk JANGAN LENGAH.
 Oiya tidak lama seudah itu, saya mengikuti Ujian Mandiri UGM (lagi) yang namanya Penelusuran Bakat Olahraga dan Seni (PBOS). Jalur ini dibuka sebelum adanya SBMPTN, so memang banyak sekali yang memanfaatkan kesempatan ini jika diliat dari pendaftarnya yang mencapai ribuan. Di PBOS terdapat 3 tahap yaitu seleksi berkas, tes tertulis, dan tes ketrampilan. Di tahap kedua saya benar-benar tidak menyangka karena dari sekitar 800-an yang lolos tahap pertama akan disaring menjadi hanya  70  orang. Sekali lagi, berkat  Zenius di bagian  TPA which is seringkali ‘diam-diam menghanyutkan’ ,saya lolos. Puji syukur ! Saat  itu saya mendaftar IPC (Kedokteran Gigi dan Hukum). Tapi sayangnya di tahap tiga, keberuntungan belum ada di pihak saya. Aga deg-degan sih (re: banget), karena itu berarti SBMPTN suda di depan mata. Hingga saatnya saya bener-bener punya niatan untuk memilih antara Saintek atau Soshum supaya belajar saya lebih maksimal. Karena jujur saja, apa yang dikatakan Bang Sabda di video-video Zenius Learning which is sangat mengingatkan kita bahwa DELIBERATE PRACTICE  dan persiapan sejak jauh-jauh hari itu benar dan sangat ampuh, so strategi saya saat itu adalah benar-benar fokus di salah satu bidang, dan akhirnya saya memilih Soshum.


*Banyak diantara teman-teman saya yang bertanya “Loh Berli kok jadinya ambil Ilmu Hukum?” and so on.. padahal dulu saya sangat anti untuk memasuki ranah social studies ini. Namun kala itu saya mendapat sebuah getaran hati dari dalam diri saya. Papi saya telah meninggal dunia dan setelahnya  banyak hal yang terjadi, disitu saya sangat merasakan betapa susahnya menjadi seorang single-parent dan anak yang kehilangan ayahnya dalam mengarungi kehidupan. Mungkin hal ini terdengar terlalu alay dan abstrak,namun hal tersebut nyata, seperti banyaknya hambatan dari segi finansial, sosial dan lain-lain. Akhirnya saya tergerak untuk memiliki sebuah foundation untuk menyantuni anak-anak yatim dan melindungi para widow yang seringkali dalam posisi yang kurang mengenakan ketika bersosialisasi di masyarakat. Untuk mewujudkan cita-cita itu, maka saya pun merasa harus mengetahui bagaimana cara melindungi mereka dari berbagai aspek khususnya dalam ranah hukum.*


Sebenarnya saya juga sedih sih karena setiap hari saya selalu menjadi pendengar setia Bang Wisnu, Bang Pras dan Kak Yoki, kini saya harus benar-benar vacum saintek,banting stir ke soshum dan pentengin kak Faishal (menggebu banget setiap kali bercerita) ,bang Pio (gokil parah suaranya, saya jadi ketawa-ketawa sendiri) dan yang pasti Bang Sabda (yang selalu bikin belajarnya cewe-cewe jadi suka salah fokus karena melting dengerin suaranya ,hahaha!). Oiya lucunya lagi, mami saya itu suka banget kalau nemenin saya belajar Zenius setiap harinya, saking-saking malah mami request buat dengerin Ekonomi lah atau Geografi atau yang lain, supaya tambah pinter katanya. Hingga peliharaan mami juga beliau kasi nama Zenius agar saya selalu ingat dan tidak lengah seperti masa-masa perjuangan, ada-ada saja emang.
Meskipun ini ilmu baru yang saya pelajari tapi berkat Zenius saya bisa benar-benar paham banget  konsepnya. Jujur saya waktu itu baru berbekal  Ekonomi dan Sejarah doang pas kelas 10 sampai 11, selebihnya masih benar-benar belum tau. 
Belajar dengan Zenius itu menurut saya bisa  santai dan bikin mudeng! Beberapa kali saya try out dan hasilnya puji syukur selalu memuaskan, jadi teman-teman seperjuangan dan khususnya yang sama-sama banting stir seperti saya, mereka meminta saya untuk mengajari dan menjelaskan. Alhasil saya pun juga makin ingat, thanks berat Zen! 
Detailnya saya milih :
Pilihan 1 SBMPTN : Ilmu Hukum Universitas Diponegoro
Pilihan 1 UTUL : Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada
Pilihan 1 UM UNDIP : International Undergraduate Program (IUP) International-Bussines Management  






Alhamdulillah, ketiganya saya lolos di pilihan satunya Zen!!! dan akhirnya saya memilih Ilmu Hukum Universitas Diponegoro (SBMPTN). Puji syukur, mami saya bangga sekali dan saya pun senang setidaknya telah membuat mami bangga! Dan INI BUKAN AKHIR, NAMUN AWAL DARI PERJUANGAN YANG SESUNGGUHNYA.

So guys, banyak sekali hikmah dan pembelajaran yang saya dapatkan selama SMA ini khususnya di kelas 12 dan berkat Zenius juga saya bisa meraih ini semua. Terlepas banyak kegagalan dan masalah yang pernah saya hadapi, jika dibarengi tekad dan niat pasti semua akan tercapai. Yang sangat berkesan bagi saya dari Zenius adalah Zenius Learning –disampaikan oleh Bang Sabda waktu itu- Zenius bukan cuma ngebantu lo buat tembusin ujian-ujian yang ada tapi lebih daripada itu, Zenius juga ngebantu lo untuk membangun fondasi-fondasi pemikiran lo dalam berolah pikir ke depan. Ya,saya mendapatkan itu semua dari Zenius dan itu yang menurut saya adalah ilmu yang ngga setiap kita temui dan sangat berharga. Sekali lagi saya mau bilang terimakasih yang sebesar-besarnya untuk Zenius Education yang uda membantu kami semua selama ini dalam meraih cita-cita.
Semoga tulisan ini memberi inspirasi untuk semua, thanks guys!
 

Kamis, 31 Desember 2015

“ How To Be a Good Announcer and Presenter? ”


Review and Practicle Broadcasting Festival Pro 2 RRI



Hai semuanya, kali ini saya ingin mengulas dan berbagi pengalaman tentang sebuah workshop yang baru saja saya hadiri. Workshop ini bertakjub Broadcasting Festival Pro 2 RRI yang diselenggarakan oleh mahasiswa Undip Ilmu Komunikasi. Workshop ini diadakan pada hari  Minggu, 27 Desember 2015  pukul 9.00-15.00 WIB di auditorium RRI Jalan Jend A Yani No 144 – 146 Kota Semarang Jawa Tengah. Pada workshop kali ini terdapat  3 speakers yaitu Kak Lintang Ratri Rahmiaji, S.sos, M.Si beliau adalah seorang akademisi (dosen) belia Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang, lalu Kak Reza Aditya, beliau adalah seorang praktisi dalam bidang Radio Broadcasting sebagai music director Pro2 FM RRI Semarang, lalu ada juga Mbak Lintang Dwi, seorang praktisi dalam bidang TV Broadcasting yaitu News Reader NET TV Semarang. *p.s. Mbak Lintang sebagai speaker pengganti sekaligus sahabat dari Mbak Dheayu Jihan Bias Khansa (Reporter dan Presenter TVKU). Workshop ini dimeriahkan pula oleh penampilan dari Beach and Blue Sky serta IFGC (Indonesian Fingerstyle Guitar Community).

Kenapa acara ini diadakan? Dari perspektif saya, hal ini disebabkan karena semakin banyak media massa dan media sosial yang kian menarik dan seringkali menampilkan konten-konten yang beragam. Sehingga membuat anak muda tertarik untuk terjun dan berkarir di dalamnya. Acara ini diselenggarakan untuk umum, namun karena penyelenggaranya dari jenjang universitas, mayoritas pesertanya berasal dari kalangan mahasiswa berbagai fakultas. Saya sendiri (yang notabennya sebagai pelajar SMA) hanya menemukan 2 pelajar SMA pada acara ini. Saya juga sempat berkenalan dengan peserta lain seperti Kak Gusti mahasiswa Undip Akuntansi semester 6, Kak Nadia mahasiswa Biologi semester 4, dan masih banyak lagi. Workshop ini dibuka oleh Ibu Arianti sebagai kepala stasiun RRI Semarang dan terbagi menjadi 3 sesi yaitu sesi Public Speaking, sesi Radio Broadcasting dan sesi TV Broadcasting.


Sesi pertama yaitu tentang Public Speaking dibuka oleh Kak Lintang (@lintangratrii)  ,seorang dosen muda dan psikolog komunikasi yang sudah tidak diragukan lagi kemampuan dan pengalamannya dalam bidang ini. Sapaan yang meriah dan lantang membangkitkan semangat para peserta di hari Minggu pagi. Kak Lintang dan juga 2 speakers setelahnya lebih memilih untuk berdiri sambil berinteraksi dengan para peserta dibandingkan duduk di kursi yang telah disediakan oleh panitia di panggung. Kak Lintang membuka sesinya dengan menunjukkan hasil survei yang memperlihatkan hal-hal yang membuat manusia merasa takut, seperti saat dikejar anjing, takut ketinggian, takut tenggelam dan lain-lain. Namun yang menduduki peringkat nomor 1 yaitu … takut berbicara di depan umum. Hal ini pun “di-iya-kan” oleh sebagian besar peserta workshop. Seketika Kak Lintang menghampiri beberapa peserta dan menanyakan mengapa mereka merasakan ketakutan ketika harus berbicara di depan publik. Alasannya pun sangat umum sebenarnya, seperti mereka tidak memiliki topik bahasan untuk diutarakan, takut tidak mendapat respon yang antusias dari listeners, kurang percaya diri dll. Pertanyaan selanjutnya yaitu bagaimana cara peserta untuk mengurangi nervous mereka sebelum berbicara di depan umum. Ketika Kak Lintang menghampiri saya, saya menjawab biasanya saya selalu meminum air mineral dan membaca doa pendek, peserta lain ada yang menjawab dengan meyakinkan dirinya bahwa “I can do this”, bahkan ada juga yang dengan loncat setinggi-tingginya . 

Setelah mendengarkan beberapa pernyataan dari audience, kak Lintang mencoba untuk membuka pikiran peserta. Menurutnya, manusia adalah seorang insan yang pastinya memiliki kemampuan dasar untuk berkomunikasi, tinggal seberapa sering kita berlatih dan mengasah kemampuan berkomunikasi kita, sehingga kita bisa lancar dan percaya diri untuk berbicara di depan umum. Inti dari sebuah komunikasi menurut kak Lintang yaitu Break up the eyes, speak up your minds and make the world say yes.

Nah, lalu bagaimana cara  membuat sebuah komunikasi dengan publik menjadi efektif? Kuncinya adalah dengan membuat komunikasi yang kreatif, atraktif dan komunikasi 2 arah. Saat ini masyarakat lebih menyukai hal-hal yang tidak monoton, maka sudah jelas seorang public speaker dituntut untuk dapat “mengulik” sesuatu yang menarik dan dibutuhkan orang-orang disekitarnya. Itulah sisi kreatif yang dibutuhkan. Dari segi atraktif, seorang public speaker saat ini juga harus piawai dalam menguasai suasana listeners dan tidak kaku. Atraktif bisa disuguhkan dalam berbagai cara dan menurut saya, hal itulah yang dapat membedakan  karakteristik seorang speaker satu dengan lainnya. Atraktif pun bukan berarti over acting. Namun intinya bisa membuat fresh ambience. Dan ketiga yaitu komunikasi 2 arah. Kak Lintang menyebutkan bahwa hal inilah yang sering menjadi kelemahan dari seorang speaker. Dimana mereka biasanya “terlalu sibuk” dengan topik pembicaraan. Sehingga keterlibatan dan interaksi bersama audience menjadi kurang. Itulah mengapa Kak Lintang selalu menitikberatkan pada poin ini. Agar audience tidak hanya mendengarkan, namun betul-betul paham dengan konteks yang sedang mereka perbincangkan.

Disamping latihan berbicara di depan publik, Kak Lintang pun menyarankan untuk keluar dari circle people yang tidak kondusif. Contohnya seperti orang-orang yang biasanya menyuruh kita untuk diam dan membiarkan mereka yang berbicara, sebaiknya kita sedikit menghindari circle people yang seperti itu agar kesempatan untuk mengasah kemampuan berpublic speaking kita tidak hilang. 

Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum ber-public speaking yaitu :
1.      Find the topic
2.      Make the outlines
3.      Gather the info
4.      Research the audience
5.      Write your text
6.      Practice, Practice, Practice !

Sesi kedua yaitu mengenai Radio Broadcasting dibawakan oleh Kak Reza Aditya (@akulahREZA). Pada awal sesinya, Kak Reza bertanya pada audience Siapa yang mau menjadi penyiar dan apa alasannya? Beberapa peserta pun ada yang menjawab karena untuk menjadi seorang penyiar kita tidak harus berhadapan langsung dengan listeners, lalu bisa menyalurkan hobi berbicara dll. Setelah itu kak Reza menguji audience dengan pertanyaan, seberapa sering kita mendengarkan radio saat ini? Berapa lama durasi maksimal mendengarkan radio? Hingga pertanyaan yang “menyentil” yaitu Saat mendengarkan radio, yang kita dengarkan itu penyiarnya atau musiknya? NAH!

Kak Reza juga memberikan gambaran tentang kondisi per-radio-an Indonesia saat ini, yang mana mereka harus mampu bersaing dengan “rival bebuyutan”-nya yakni, televisi. Menurutnya masyarakat bisa melihat TV seharian, tapi untuk mendengarkan radio mungkin hanya beberapa menit saja. Dan saat ini, kaum muda lebih menikmati musiknya saja, dalam artian ketika penyiar berbicara terlalu lama atau membosankan, mereka lantas mengganti saluran. Banyaknya stasiun radio serta popularitas radio yang sedang “downgrade” membuat radio pun harus lebih memperhatikan keinginan listeners dan juga membuat segmen-segmen unggulan yang tidak dimiliki oleh radio lain. Kak Reza mengutarakan bahwa saat ini untuk menjadi penyiar tidaklah harus memiliki suara yang bagus, namun yang lebih diutamakan adalah kecerdasan dalam broadcasting. Penyiar sebaiknya dapat menyampaikan maksud dan tujuannya secara singkat, jelas ,menarik dan to the point terhadap listeners. Atau Kak Reza sebut “KISS” Keep It Short and Simple. Oiya, dia juga menambahkan bahwa meskipun tidak berinteraksi secara langsung dengan listeners, penyiar tetap harus berpenampilan yang menarik. Sebagai spesialis music director PRO 2 FM, kak Reza membocorkan tips menjadi MD (Music Director) yang profesional diantaranya MD baiknya memutar playlist yang universal dan bisa mengontrol moodnya. In casenya seperti ini, jangan seperti ketika MD sedang dikondisi mood yang baik, lagu yang diputarkan adalah lagu bahagiaa semua, dan ketika moodnya sedang buruk ,lagu yang dimainkan hanyalah lagu galaaau semua. *sontak semua peserta tertawa, termasuk saya* Disamping itu, MD juga dituntut untuk dapat memahami selera musik kaum muda yang silih berganti.

Juga disebutkan oleh Kak Reza bahwa RRI Semarang sendiri memiliki 4 saluran yang berbeda penikmatnya diantaranya :
Pro 1 di 89fm dengan penikmat seluruh kalangan usia (dari yang baru lahir sampai mau mati).
Pro 2 di 95.3fm untuk kaum muda usia 15-25 tahun, lebih banyak playlist musik.
Pro 3 di 92.2fm berisi berita se-Indonesia, siaran di Jakarta
Pro 4 di 82.2fm khusus kesenian dan budaya 55% wayang kulit
Telah tersedia juga RRI Play Android yang bisa didownload free
Program unggulan RRI yang tidak dimiliki radio lain diantaranya : Be Young (chart band-band indie se-Indonesia) dan RRI 30 detik (citizen journalism) dan masih banyak lagi.

Untuk menjadi penyiar yang handal harus memiliki skill komunikasi yang baik dalam berinteraksi dengan seorang narasumber dan partner. Tantangan yang acapkali terjadi ialah menghadapi narasumber yang terlalu banyak berbicara maupun sebaliknya. Kak Reza pribadi dalam kesehariannya menginterview seorang narasumber yang terlalu banyak berbicara, lebih memilih untuk segera memotong pembicaraan yang terlalu panjang, hal tersebut ia lakukan demi tuntutan. Karena menurutnya, hasil baik atau buruknya interview tergantung dari si penyiar, intinya tidak ada narasumber yang salah, yang ada penyiar-nya lah yang salah. *paham ya?* Saya sempat melayangkan sebuah pertanyaan yaitu bagaimana menghasilkan kolaborasi broadcasting yang baik ketika sedang bersama partner DJ. Ia berbagi tips untuk yang satu ini, dimana sebelum memulai siaran ada baiknya untuk “janjian” dengan partner DJ. Misalnya, kamu adalah seorang yang ulung membully dibanding partner kamu, maka saat siaran nanti, kamu lah yang membuka per-bully-sasian, kemudian partner kamu membalas dan endingnya tetap kamu yang berhasil membully dan bisa juga dalam bentuk lain.

 Dalam sesi ini, para peserta sangat antusias untuk bertanya dan mencoba membaca teks yang terpampang pada LCD dan semua yang maju pun dapat melakukan dengan luar biasa, bahkan meskipun dia yang hanya berlatih autodidak! *appreciate it*


Sesi ketiga yaitu tentang TV Broadcasting oleh Mbak Lintang Dwi (@lintangdwi13). Sekilas melihat sosok Mbak Lintang, apperience-nya tidak begitu terlihat sebagai News Reader, ia pun mengiyakan statement tersebut. Pasalnya jika dibandingkan dengan “mbak-mbak di TV” yang selalu tampil feminin, rapih dan bermake up, kali ini yang kami lihat adalah seseorang  yang tomboy, ber-apperience sederhana dan no make up. #WAH . Mbak Lintang malah menambahkan jika daily outfitnya bahkan lebih “gembel” daripada saat di workshop ini. Tapi jangan salah, ketika beberapa video dirinya diputar di layar, tampak sosok yang cantik nan rupawan, "Semua itu karena the make up masterpiece!" imbuhnya.  Ia adalah seorang yang menapaki karirnya benar-benar dari nol melalui radio broadcasting hingga saat ini merambah ke dunia tv broadcasting, sehingga cara ia menyampaikan materi pun dengan sangat lugas dan blak-blakan. 

Ia memulai sesinya dengan berbagi pengalaman yang pernah dan sedang ia jalani diantaranya Radio Announcer for ProAlma 2012-2014, Top 10 TraxHunt 2014, News Reader for TVKU 2013-2015, Radio Announcer for IBCfm 2015 dan News Reader for NET Jateng. Semua itu ia jalani dengan tidak mudah, apalagi dalam dunia jurnalistik ia pertama kali bukalnlah siapa-siapa. Tempat menapaki awal karirnya yaitu di ProAlma (sebuah jaringan radio milik Undip), disanalah tempat Mbak Lintang ”menggembleng” dirinya. “Menjadi presenter tidak harus cantik.” ucapnya dengan tegas. Hal utama yang harus dimiliki seorang presenter ialah karakter BE HUMBLE. Seorang presenter bukanlah siapa-siapa tanpa sebuah teamwork. Maka jangan bayangkan ketika Anda adalah seorang presenter, disaat itu pulalah Anda bak artis, TIDAK. Dalam sesi ini Mbak Lintang pun menguji pengetahuan para audience tentang Bagaimana sebuah berita diliput hingga sampai pada tayangan berita hingga Apa perbedaan News Reader, News Caster dan News Anchor.

News-reader, yaitu seseorang yang hanya membacakan  news based on the text. Contoh: Metro Pagi, Headline News
News-caster, yaitu seseorang yang selain membaca berita, juga ikut aktif dalam mencari berita.
News-anchor, yaitu seseorang yang membaca berita,  memberikan improvisasi atau comment pada berita yang dibacakannya, menghandle live-interview, ikut serta memberikan pelaporan langsung pada saat berita tersebut. Serta ikut dalam perumusan script supaya script bisa disesuaikan dengan style-nya dia.Contoh: Mata Najwa

Sedangkan dalam proses penyampaian berita hingga ke publik oleh pembawa acara, dibutuhkan waktu yang panjang dan rumit. Mulai dari pengambilan take, pembuatan script, editing dan lain-lain. Sehingga tidak mungkin seseorang membawakan berita dengan baik tanpa teamwork, dan itulah mengapa karakter BE HUMBLE selalu ditekankan oleh Mbak Lintang pada sesi ini. Begitupula dengan karirnya saat ini yang semakin menanjak  tidak ia dapatkan dengan sendirinya, semua itu berkat team work yang selama ini ia hargai dalam bekerjasama. Ia pun berbagi pengalamannya sebagai seorang News Reader saat ini, dimana ketika sebuah berita sudah harus ditayangkan pukul 5 pagi misalnya, ia sudah harus ready untuk take pukul 2 dini hari dengan wadrobe dan muka yang segar tentunya. Mbak Lintang pun memberikan kunci utama sebagai seorang pembawa berita profesional yaitu Self Control yang baik. Dimana mereka harus pandai-pandai mengontrol mood mereka (in case seperti sedang mendapatkan masalah hati dll, mereka harus bisa meninggalkan itu semua dan fokus untuk membacakan berita) dan juga membawa suasana berita dengan tepat (eg. Berita bencana dibawakan dengan mimik dan nada bicara yang prihatin, berita pemilu dibacakan dengan tegas, berita achievement dibacakan dengan segar dll).

Overall, saya sangat menikmati workshop Broadcasting Festival ini, meskipun acara tidak diadakan dengan ontime, namun pihak panitia pun berupaya untuk memutar beberapa episode serial Malam Minggu Miko yang menurut saya merupakan ide briliant! Panitia juga telah berinisiatif untuk menyediakan kursi-kursi di panggung untuk para speaker (meskipun pada praktiknya, para speakers lebih memilih untuk berdiri dan berinteraksi lebih intens dengan para audience) juga menyuguhkan performance komunitas-komunitas lokal yang patut diapresiasi.

Pada saat workshop, memang saya hanya kebagian beberapa kali bertanya namun belum sempat untuk maju dan mencoba praktik pada sesi radio broadcasting karena antusias peserta yang sangat tinggi. Namun akhirnya saya mendapat ladang emas untuk mempraktikan workshop tersebut saat diadakannya kegiatan Social Care oleh sekolah saya di sebuah Panti Asuhan dan Pesantren. Disana saya harus bisa mengenal orang-orang baru secara personal yang kesehariannya sangat kontras dengan saya dalam waktu singkat. Berkat workshop ini, saya dapat dengan cepat beradaptasi sekaligus berinteraksi dengan mereka semua. Sebelumnya skill berkomunikasi saya rasa sudah so so lah (menengah ke atas #eh) jika dibandingkan dengan teman-teman pada seusia saya, namun mungkin dibeberapa ocassion, saya masih kurang bisa membawa ambience menjadi segar, sehingga terkesan terlalu formal dan kaku. Namun setelah mengikuti workshop ini, saya menantang diri saya untuk lebih atraktif (melawak), interaktif dan kreatif dalam menghadapi mereka. Alhasil, mereka pun mendapat impresi yang baik dan juga sangat antusias dengan pembicaraan kami (seringkali kami tertawa terpingkal-pingkal bersama #ups) dan pastinya, saya dapat lebih bisa membawa pembicaraan menjadi segar dan meriah. Juga banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan!

HUGE THANKS especially for all of the Speakers and Committee, what a worth remembering workshop ^^! Dan sahabat saya Yasmin yang telah menginfokan saya tentang workshop ini.

Always learn and share! Semoga bermanfaat :)