Review and Practicle Broadcasting Festival Pro 2
RRI
Hai semuanya, kali ini saya ingin
mengulas dan berbagi pengalaman tentang sebuah workshop yang baru saja saya
hadiri. Workshop ini bertakjub Broadcasting Festival Pro 2 RRI yang
diselenggarakan oleh mahasiswa Undip Ilmu Komunikasi. Workshop ini diadakan
pada hari Minggu, 27 Desember 2015 pukul 9.00-15.00 WIB di auditorium RRI Jalan
Jend A Yani No 144 – 146 Kota Semarang Jawa Tengah. Pada workshop kali ini terdapat 3
speakers yaitu Kak Lintang Ratri Rahmiaji, S.sos, M.Si beliau adalah seorang
akademisi (dosen) belia Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang, lalu
Kak Reza Aditya, beliau adalah seorang praktisi dalam bidang Radio Broadcasting
sebagai music director Pro2 FM RRI Semarang, lalu ada juga Mbak Lintang Dwi,
seorang praktisi dalam bidang TV Broadcasting yaitu News Reader NET TV Semarang.
*p.s. Mbak Lintang sebagai speaker pengganti sekaligus sahabat dari Mbak Dheayu
Jihan Bias Khansa (Reporter dan Presenter TVKU). Workshop ini dimeriahkan pula
oleh penampilan dari Beach and Blue Sky serta IFGC (Indonesian Fingerstyle
Guitar Community).
Kenapa acara ini diadakan? Dari
perspektif saya, hal ini disebabkan karena semakin banyak media massa dan media
sosial yang kian menarik dan seringkali menampilkan konten-konten yang beragam.
Sehingga membuat anak muda tertarik untuk terjun dan berkarir di dalamnya. Acara
ini diselenggarakan untuk umum, namun karena penyelenggaranya dari jenjang
universitas, mayoritas pesertanya berasal dari kalangan mahasiswa berbagai fakultas.
Saya sendiri (yang notabennya sebagai pelajar SMA) hanya menemukan 2 pelajar
SMA pada acara ini. Saya juga sempat berkenalan dengan peserta lain seperti Kak
Gusti mahasiswa Undip Akuntansi semester 6, Kak Nadia mahasiswa Biologi
semester 4, dan masih banyak lagi. Workshop ini dibuka oleh Ibu Arianti sebagai
kepala stasiun RRI Semarang dan terbagi menjadi 3 sesi yaitu sesi Public
Speaking, sesi Radio Broadcasting dan sesi TV Broadcasting.
Sesi pertama yaitu tentang Public
Speaking dibuka oleh Kak Lintang (@lintangratrii) ,seorang dosen muda dan psikolog komunikasi yang
sudah tidak diragukan lagi kemampuan dan pengalamannya dalam bidang ini. Sapaan
yang meriah dan lantang membangkitkan semangat para peserta di hari Minggu
pagi. Kak Lintang dan juga 2 speakers setelahnya lebih memilih untuk berdiri
sambil berinteraksi dengan para peserta dibandingkan duduk di kursi yang telah
disediakan oleh panitia di panggung. Kak Lintang membuka sesinya dengan
menunjukkan hasil survei yang memperlihatkan hal-hal yang membuat manusia
merasa takut, seperti saat dikejar anjing, takut ketinggian, takut tenggelam
dan lain-lain. Namun yang menduduki peringkat nomor 1 yaitu … takut berbicara
di depan umum. Hal ini pun “di-iya-kan” oleh sebagian besar peserta workshop.
Seketika Kak Lintang menghampiri beberapa peserta dan menanyakan mengapa mereka
merasakan ketakutan ketika harus berbicara di depan publik. Alasannya pun
sangat umum sebenarnya, seperti mereka tidak memiliki topik bahasan untuk
diutarakan, takut tidak mendapat respon yang antusias dari listeners, kurang
percaya diri dll. Pertanyaan selanjutnya yaitu bagaimana cara peserta untuk
mengurangi nervous mereka sebelum berbicara di depan umum. Ketika Kak Lintang
menghampiri saya, saya menjawab biasanya saya selalu meminum air mineral dan
membaca doa pendek, peserta lain ada yang menjawab dengan meyakinkan dirinya
bahwa “I can do this”, bahkan ada juga yang dengan loncat setinggi-tingginya .
Setelah mendengarkan beberapa
pernyataan dari audience, kak Lintang mencoba untuk membuka pikiran peserta.
Menurutnya, manusia adalah seorang insan yang pastinya memiliki kemampuan dasar
untuk berkomunikasi, tinggal seberapa sering kita berlatih dan mengasah
kemampuan berkomunikasi kita, sehingga kita bisa lancar dan percaya diri untuk
berbicara di depan umum. Inti dari sebuah komunikasi menurut kak Lintang yaitu Break
up the eyes, speak up your minds and make the world say yes.
Nah, lalu bagaimana cara membuat sebuah komunikasi dengan publik menjadi
efektif? Kuncinya adalah dengan membuat komunikasi yang kreatif, atraktif dan komunikasi
2 arah. Saat ini masyarakat lebih menyukai hal-hal yang tidak monoton, maka
sudah jelas seorang public speaker dituntut untuk dapat “mengulik” sesuatu yang
menarik dan dibutuhkan orang-orang disekitarnya. Itulah sisi kreatif yang dibutuhkan. Dari segi atraktif, seorang public speaker saat
ini juga harus piawai dalam menguasai suasana listeners dan tidak kaku.
Atraktif bisa disuguhkan dalam berbagai cara dan menurut saya, hal itulah yang
dapat membedakan karakteristik seorang
speaker satu dengan lainnya. Atraktif pun bukan berarti over acting. Namun
intinya bisa membuat fresh ambience. Dan ketiga yaitu komunikasi 2 arah. Kak Lintang menyebutkan bahwa hal inilah yang
sering menjadi kelemahan dari seorang speaker. Dimana mereka biasanya “terlalu sibuk”
dengan topik pembicaraan. Sehingga keterlibatan dan interaksi bersama audience
menjadi kurang. Itulah mengapa Kak Lintang selalu menitikberatkan pada poin
ini. Agar audience tidak hanya mendengarkan, namun betul-betul paham dengan
konteks yang sedang mereka perbincangkan.
Disamping latihan berbicara di
depan publik, Kak Lintang pun menyarankan untuk keluar dari
circle people yang tidak kondusif. Contohnya seperti orang-orang yang biasanya
menyuruh kita untuk diam dan membiarkan mereka yang berbicara, sebaiknya
kita sedikit menghindari circle people yang seperti itu agar kesempatan untuk
mengasah kemampuan berpublic speaking kita tidak hilang.
Hal-hal yang perlu diperhatikan
sebelum ber-public speaking yaitu :
1.
Find
the topic
2.
Make
the outlines
3.
Gather
the info
4.
Research
the audience
5.
Write
your text
6.
Practice,
Practice, Practice !
Sesi kedua yaitu mengenai Radio
Broadcasting dibawakan oleh Kak Reza Aditya (@akulahREZA). Pada awal sesinya,
Kak Reza bertanya pada audience Siapa yang mau menjadi penyiar dan apa alasannya?
Beberapa peserta pun ada yang menjawab karena untuk menjadi seorang penyiar
kita tidak harus berhadapan langsung dengan listeners, lalu bisa menyalurkan
hobi berbicara dll. Setelah itu kak Reza menguji audience dengan
pertanyaan, seberapa sering kita mendengarkan radio saat ini? Berapa lama
durasi maksimal mendengarkan radio? Hingga pertanyaan yang “menyentil” yaitu
Saat mendengarkan radio, yang kita dengarkan itu penyiarnya atau musiknya? NAH!
Kak Reza juga memberikan gambaran
tentang kondisi per-radio-an Indonesia saat ini, yang mana mereka harus mampu bersaing
dengan “rival bebuyutan”-nya yakni, televisi. Menurutnya masyarakat bisa
melihat TV seharian, tapi untuk mendengarkan radio mungkin hanya beberapa menit
saja. Dan saat ini, kaum muda lebih menikmati musiknya saja, dalam artian
ketika penyiar berbicara terlalu lama atau membosankan, mereka lantas mengganti
saluran. Banyaknya stasiun radio serta popularitas radio yang sedang “downgrade”
membuat radio pun harus lebih memperhatikan keinginan listeners dan juga
membuat segmen-segmen unggulan yang tidak dimiliki oleh radio lain. Kak Reza
mengutarakan bahwa saat ini untuk menjadi penyiar tidaklah harus memiliki suara
yang bagus, namun yang lebih diutamakan adalah kecerdasan dalam broadcasting.
Penyiar sebaiknya dapat menyampaikan maksud dan tujuannya secara singkat, jelas
,menarik dan to the point terhadap listeners. Atau Kak Reza sebut “KISS”
Keep It Short and Simple. Oiya, dia juga menambahkan bahwa meskipun
tidak berinteraksi secara langsung dengan listeners, penyiar tetap harus
berpenampilan yang menarik. Sebagai spesialis music director PRO 2 FM, kak Reza
membocorkan tips menjadi MD (Music Director) yang profesional diantaranya MD baiknya
memutar playlist yang universal dan bisa mengontrol moodnya. In casenya seperti
ini, jangan seperti ketika MD sedang dikondisi mood yang baik, lagu yang
diputarkan adalah lagu bahagiaa semua, dan ketika moodnya sedang buruk ,lagu
yang dimainkan hanyalah lagu galaaau semua. *sontak semua peserta tertawa,
termasuk saya* Disamping itu, MD juga dituntut untuk dapat memahami selera
musik kaum muda yang silih berganti.
Juga disebutkan oleh Kak Reza
bahwa RRI Semarang sendiri memiliki 4 saluran yang berbeda penikmatnya
diantaranya :
Pro 1 di 89fm dengan penikmat
seluruh kalangan usia (dari yang baru lahir sampai mau mati).
Pro 2 di 95.3fm untuk kaum muda
usia 15-25 tahun, lebih banyak playlist musik.
Pro 3 di 92.2fm berisi berita
se-Indonesia, siaran di Jakarta
Pro 4 di 82.2fm khusus kesenian
dan budaya 55% wayang kulit
Telah tersedia juga RRI Play
Android yang bisa didownload free
Program unggulan RRI yang tidak
dimiliki radio lain diantaranya : Be Young (chart band-band indie se-Indonesia)
dan RRI 30 detik (citizen journalism) dan masih banyak lagi.
Untuk menjadi penyiar yang handal
harus memiliki skill komunikasi yang baik dalam berinteraksi dengan seorang
narasumber dan partner. Tantangan yang acapkali terjadi ialah menghadapi
narasumber yang terlalu banyak berbicara maupun sebaliknya. Kak Reza pribadi
dalam kesehariannya menginterview seorang narasumber yang terlalu banyak
berbicara, lebih memilih untuk segera memotong pembicaraan yang terlalu
panjang, hal tersebut ia lakukan demi tuntutan. Karena menurutnya, hasil baik
atau buruknya interview tergantung dari si penyiar, intinya tidak ada
narasumber yang salah, yang ada penyiar-nya lah yang salah. *paham ya?* Saya
sempat melayangkan sebuah pertanyaan yaitu bagaimana menghasilkan kolaborasi
broadcasting yang baik ketika sedang bersama partner DJ. Ia berbagi tips untuk
yang satu ini, dimana sebelum memulai siaran ada baiknya untuk “janjian” dengan
partner DJ. Misalnya, kamu adalah seorang yang ulung membully dibanding partner
kamu, maka saat siaran nanti, kamu lah yang membuka per-bully-sasian, kemudian
partner kamu membalas dan endingnya tetap kamu yang berhasil membully dan bisa
juga dalam bentuk lain.
Dalam sesi ini, para peserta sangat antusias
untuk bertanya dan mencoba membaca teks yang terpampang pada LCD dan semua yang
maju pun dapat melakukan dengan luar biasa, bahkan meskipun dia yang hanya
berlatih autodidak! *appreciate it*
Sesi ketiga yaitu tentang TV
Broadcasting oleh Mbak Lintang Dwi (@lintangdwi13). Sekilas melihat sosok Mbak
Lintang, apperience-nya tidak begitu terlihat sebagai News Reader, ia pun
mengiyakan statement tersebut. Pasalnya jika dibandingkan dengan “mbak-mbak di
TV” yang selalu tampil feminin, rapih dan bermake up, kali ini yang kami lihat
adalah seseorang yang tomboy,
ber-apperience sederhana dan no make up. #WAH . Mbak Lintang malah menambahkan
jika daily outfitnya bahkan lebih “gembel” daripada saat di workshop ini. Tapi
jangan salah, ketika beberapa video dirinya diputar di layar, tampak sosok yang cantik nan rupawan, "Semua itu karena the make up masterpiece!" imbuhnya. Ia adalah seorang yang menapaki karirnya benar-benar dari nol
melalui radio broadcasting hingga saat ini merambah ke dunia tv broadcasting,
sehingga cara ia menyampaikan materi pun dengan sangat lugas dan blak-blakan.
Ia memulai sesinya dengan berbagi
pengalaman yang pernah dan sedang ia jalani diantaranya Radio Announcer for
ProAlma 2012-2014, Top 10 TraxHunt 2014, News Reader for TVKU 2013-2015, Radio
Announcer for IBCfm 2015 dan News Reader for NET Jateng. Semua itu ia jalani
dengan tidak mudah, apalagi dalam dunia jurnalistik ia pertama kali bukalnlah
siapa-siapa. Tempat menapaki awal karirnya yaitu di ProAlma (sebuah jaringan
radio milik Undip), disanalah tempat Mbak Lintang ”menggembleng” dirinya. “Menjadi
presenter tidak harus cantik.” ucapnya dengan tegas. Hal utama yang
harus dimiliki seorang presenter ialah karakter BE HUMBLE. Seorang presenter
bukanlah siapa-siapa tanpa sebuah teamwork. Maka jangan bayangkan ketika Anda
adalah seorang presenter, disaat itu pulalah Anda bak artis, TIDAK. Dalam sesi
ini Mbak Lintang pun menguji pengetahuan para audience tentang
Bagaimana sebuah berita diliput hingga sampai pada tayangan berita hingga Apa
perbedaan News Reader, News Caster dan News Anchor.
News-reader, yaitu seseorang yang hanya membacakan news based on the text. Contoh: Metro Pagi,
Headline News
News-caster, yaitu seseorang yang selain membaca berita, juga
ikut aktif dalam mencari berita.
News-anchor, yaitu seseorang yang membaca berita, memberikan improvisasi atau comment pada
berita yang dibacakannya, menghandle live-interview, ikut serta memberikan
pelaporan langsung pada saat berita tersebut. Serta ikut dalam perumusan
script supaya script bisa disesuaikan dengan style-nya dia.Contoh: Mata
Najwa
Sedangkan
dalam proses penyampaian berita hingga ke publik oleh pembawa acara, dibutuhkan
waktu yang panjang dan rumit. Mulai dari pengambilan take, pembuatan script,
editing dan lain-lain. Sehingga tidak mungkin seseorang membawakan berita
dengan baik tanpa teamwork, dan itulah mengapa karakter BE HUMBLE selalu
ditekankan oleh Mbak Lintang pada sesi ini. Begitupula dengan karirnya saat ini
yang semakin menanjak tidak ia dapatkan
dengan sendirinya, semua itu berkat team work yang selama ini ia hargai dalam
bekerjasama. Ia pun berbagi pengalamannya sebagai seorang News Reader saat ini,
dimana ketika sebuah berita sudah harus ditayangkan pukul 5 pagi misalnya, ia
sudah harus ready untuk take pukul 2 dini hari dengan wadrobe dan muka yang
segar tentunya. Mbak Lintang pun memberikan kunci utama sebagai seorang pembawa
berita profesional yaitu Self Control
yang baik. Dimana mereka harus pandai-pandai mengontrol mood mereka (in
case seperti sedang mendapatkan masalah hati dll, mereka harus bisa
meninggalkan itu semua dan fokus untuk membacakan berita) dan juga membawa
suasana berita dengan tepat (eg. Berita bencana dibawakan dengan mimik dan nada
bicara yang prihatin, berita pemilu dibacakan dengan tegas, berita achievement
dibacakan dengan segar dll).
Overall,
saya sangat menikmati workshop Broadcasting Festival ini, meskipun acara tidak
diadakan dengan ontime, namun pihak panitia pun berupaya untuk memutar beberapa
episode serial Malam Minggu Miko yang menurut saya merupakan ide briliant!
Panitia juga telah berinisiatif untuk menyediakan kursi-kursi di panggung untuk
para speaker (meskipun pada praktiknya, para speakers lebih memilih untuk
berdiri dan berinteraksi lebih intens dengan para audience) juga menyuguhkan performance
komunitas-komunitas lokal yang patut diapresiasi.
Pada
saat workshop, memang saya hanya kebagian beberapa kali bertanya namun belum
sempat untuk maju dan mencoba praktik pada sesi radio broadcasting karena
antusias peserta yang sangat tinggi. Namun akhirnya saya mendapat ladang emas
untuk mempraktikan workshop tersebut saat diadakannya kegiatan Social Care oleh
sekolah saya di sebuah Panti Asuhan dan Pesantren. Disana saya harus bisa
mengenal orang-orang baru secara personal yang kesehariannya sangat kontras
dengan saya dalam waktu singkat. Berkat workshop ini, saya dapat dengan cepat beradaptasi sekaligus
berinteraksi dengan mereka semua. Sebelumnya skill berkomunikasi saya rasa sudah
so so lah (menengah ke atas #eh) jika dibandingkan dengan teman-teman pada seusia saya, namun mungkin
dibeberapa ocassion, saya masih kurang bisa membawa ambience menjadi segar,
sehingga terkesan terlalu formal dan kaku. Namun setelah mengikuti workshop
ini, saya menantang diri saya untuk lebih atraktif (melawak), interaktif dan
kreatif dalam menghadapi mereka. Alhasil, mereka pun mendapat impresi yang baik
dan juga sangat antusias dengan pembicaraan kami (seringkali kami tertawa
terpingkal-pingkal bersama #ups) dan pastinya, saya dapat lebih bisa membawa
pembicaraan menjadi segar dan meriah. Juga banyak pengetahuan baru yang saya
dapatkan!
HUGE
THANKS especially for all of the Speakers and Committee, what a worth
remembering workshop ^^! Dan sahabat saya Yasmin yang telah menginfokan saya
tentang workshop ini.
Always
learn and share! Semoga bermanfaat :)